1. Diamalkan (العمل به). Sehebat apapun ilmu yang kita miliki, apabila tidak diamalkan dan hanya menjadi kebanggaan diri sendiri, maka sebenarnya kita telah menyia-nyiakan nikmat yang dikaruniakan Allah Ta’ala. Padahal tindakan penuh kesia-siaan bukanlah sifat dari seorang mukmin sejati.
2. Tidak suka pujian (كراهية التزكية والمدح والتكبر على الخلق). Amalan dari ilmu yang bermanfaat sangat jauh dari sifat gila pujian. Ilmu yang kita miliki seharusnya ditujukan untuk kemanfaatan umat, bukan untuk berbanga-bangga dan melebih-lebihkan kehebatan kita.
3.Rasa tawadhu’ meningkat (تكاثر تواضعك كلما ازددت علما). Rasa syukur yang dalam serta amanah yang kuat terhadap titipan Allah Ta’ala berupa ilmu yang tinggi seharusnya meningkatkan rasa tawadhu’ kita. Semakin tinggi ilmu kita, semakin menunduk kepala kita, dan semakin meningkatkan kerendahan hati.
4. Menghindari cinta jabatan & popularitas (الهرب من حب الترؤس والشهرة والدنيا). Jabatan bukanlah sasaran kita ketika kita menjalani proses pembelajaran dan mencapai satu tingkatan ilmu. Ilmu bukanlah sarana untuk meraih jabatan tertentu. Ilmu seharusnya menjadikan kita manusia yang lebih bertanggungjawab, tanpa harus mengharap imbalan jabatan.
5. Menghindari sebutan pakar (هجر دعوى العلم). Seharusnya ketika kita mendapatkan ilmu, semua gelar justru disembunyikan. Jangan pernah merasa hebat dengan segala gelar yang kita miliki. Semakin tinggi ilmu kita, seharusnya semakin pandai menyembunyikan jatidiri keilmuan kita. Sekali saja anda mengklaim diri sebagai orang berilmu, lulusan universitas top, dan sejenisnya, anda sebenarnya sudah berubah menjadi manusia yang sombong dan arogan.
6. Berbaik sangka & mencoba sekuat tenaga untuk tidak menzhalimi orang lain (إساءة الظن بالنفس، وإحسانه بالناس تنزها عن الوقوع بهم). Seharusnya semakin tinggi ilmunya, semakin banyak instropeksi dilakukan. Jangan terlalu mudah menyalahkan orang lain, apalagi mengecilkan kemampuan orang lain. Sekali anda melakukannya, maka penyakit hati anda akan semakin ditambah. Akhirnya anda akan berubah menjadi manusia berperangai iblis yang mudah menghasut, mudah mencurigai orang lain, dan mudah menghakimi orang lain. Kemampuan analisis anda tidak mendatangkan manfaat tetapi justru mendatangkan bencana bagi orang lain.
Demikian petuah dari Syaikh Bakr ibn ‘Abdullah Abu Zaid rahimahullah dalam kitab Hilyah Thalib al-‘Ilm (حلية طالب العلم), dan secara detail dibahas dalam at-Tahalli bi al-‘Amal (التحلى بالعمل). Mau percaya silahkan tidak percaya, Naudzubillahi mindzalik.
http://mbahwo.com/2012/01/ilmu-bermanfaat-tanda-tandanya/
0 comments:
Posting Komentar